Dilema Celana Ketat dan Kesehatan Reproduksi Pria

Tweet

http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2012/07/11/article-2171947-1404026F000005DC-72_306x560.jpgDunia fashion adalah dunia yang berputar, model pakaian yang trend di masa lampau bisa kembali trend di masa sekarang. Beberapa tahun terakhir, kita lihat di televisi, celana jeans ketat kembali menjadi trend di berbagai tingkatan umur.

Namun haruskah kesehatan Anda dikorbankan untuk mendapatkan sebuah predikat keren? Zaman sekarang semua orang baik kaum muda maupun dewasa, kaum wanita maupun pria sangat mengikuti perkembangan fashion. Kaum dari mars tersebut mengikuti jejak kaum dari venus untuk tampil up-to-date dengan mengenakan celana yang bukan sekedar ketat, tapi bahkan menempel seolah menjadi kulit kedua bagi pemakainya.

Pria yang memakai celana ketat kemungkinan akan menghadapi masalah dengan motilitas dan produksi sperma, memakai celana ketat secara kontinyu merupakan bahaya yang tidak disadari oleh banyak pria. Celana ketat mengakibatkan suhu di daerah kelamin meningkat dan berdampak negatif terhadap produksi sperma.

Hasil penelitian di Indonesia menyebutkan, jumlah normal sperma adalah sekitar 60 juta per mililiter akan menurun drastis menjadi 20 juta per mililiter dikarenakan skrotum* tertekan oleh celana yang terlalu ketat. Hal ini dikarenakan suhu di area skrotum meningkat sehingga tumpukan keringat di sekitar organ reproduksi tidak bisa keluar dengan lancar. Bila hal ini dibiarkan dapat menyebabkan gatal yang akan menjalar ke bagian buah zakar dan dalam jangka waktu yang lama dapat memicu pertumbuhan jamur. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya iritasi maupun infeksi yang lebih parah. Celana longgar yang memberi ruang untuk skrotum dan penis terbukti lebih aman untuk kesehatan organ reproduksi kaum pria.

*Skrotum adalah:

Kantung eksternal tipis di kulit penis yang berisikan testis dan kelenjar yang memproduksi sperma dan terbagi menjadi dua kompartemen. Skrotum bermanfaat untuk melindungi testis dimana suhu ideal untuk skrotum adalah 37 derajat selsius (sumber : https://unitedscience.wordpress.com/ipa-3/bab-2-sistem-reproduksi-manusia/).

 

 

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: