Mencegah Pembentukan Konsep Diri yang Salah pada Anak

Tweet

http://completewellbeing.com/assets/2012/07/family-point-625x380.jpgPernahkah Anda berteriak dengan bentakan dan suara tinggi “Dasar anak nakal!” kepada anak Anda? Secara tidak sadar, Anda telah menanamkan kepercayaan seperti itu ke dalam otaknya. Semakin sering anak mendengar “label” yang Anda ucapkan, ia akan mempercayai label tersebut, menganggap dirinya sesuai dengan label, dan pada akhirnya berperilaku sejalan dengan label yang diberikan.

Seorang psikolog anak, dra. S.Z. Enny Hanum P,Si, mengatakan bila si pemberi label adalah orang yang mempunyai kedekatan emosi yang sangat dekat dengan anak semisal orang tua atau pengasuhnya, pengaruhnya akan sangat besar dan cepat buat anak. “Anak akan jadi ragu pada dirinya sendiri, “Oh, jadi aku seperti itu. Orang tuaku sendiri mengatakan demikian, kok.” Misalnya, anak yang dilabel malas membaca akan semakin ragu-ragu memilih buku karena takut orangtua akan marah apabila ia tidak menamatkannya. Pada akhirnya, perjalanan bersama ke toko buku menjadi tidak menyenangkan, tawaran orangtua untuk membeli buku menjadi jarang, kesempatan anak membaca semakin berkurang, pengetahuan yang bisa didapat anak dari buku pun berkurang.

Dalam interaksi dengan anak, perlu diterapkan komunikasi yang baik. Orangtua sangat penting untuk membedakan perilaku yang bersifat sesaat dengan kepribadian dan identitas anak yang menetap. Misalnya, jika anak berbohong tentang PR matematika kemarin malam, bukan berarti anak memiliki kepribadian pembohong dan melakukannya dalam setiap kesempatan. Komunikasi dengan anak, baik pujian ataupun kritik, harus spesifik dan berfokus pada perilaku yang diharapkan di masa mendatang.

Anak yang dilabel “cengeng” dianggap akan selalu menangis tanpa alasan, anak yang dilabel nakal, kemungkinan besar akan melakukan hal-hal nakal lainnya. Hal itu karena anak-anak belum mengerti arti dari cengeng atau nakal itu sendiri.

Menurut Dr. Untung Santosa, SpKJ, M. Kes, seorang psikiater di RS. Al Islam Bandung, anak yang dilabel sejak kecil akan merasa mendapat “serangan” dan otomatis melindungi dirinya. Ada yang menjadi sangat tertutup dari lingkungan, ada yang menampilkan kemarahan dan mem-bully temannya sebagai bentuk kekecewaan. Ini muncul karena kepercayaan dirinya memburuk dan menurunnya perasan menghargai diri sendiri akibat “label” yang diberikan padanya.

Orangtua perlu terus menerus menyatakan kepercayaan dan cintanya kepada anak dalam berbagai situasi. Mengulang dengan konsisten pesan positif, saat anak berhasil akan memperkuat identitas positif anak. Biasakan memandang perilaku anak sebagai kekuatan dan potensi positif. Keras kepala bisa dilihat sebagai sifat pantang menyerah, sering takut menunjukkan kemampuan memprediksi resiko. Oleh karena itu kita sebagai guru dan orang tua harus berhati-hati dalam memberikan label pada anak. Bila aturan dilanggar, ada sangsinya; sebaliknya, bila dikerjakan, ada rewards. Tentu sebelumnya aturan tersebut sudah dibicarakan dengan anak sehingga ia memahaminya. Pengulangan pesan-pesan positif dan komunikasi yang jelas dari orangtua ke anak dengan konsisten akan sangat membantu anak menghadapi situasi menantang dalam hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>