Mengenal Lebih Dekat Istilah Indeks Glikemik

Tweet
http://www.milosskaya.ru/uploads/posts/2013-08/1376952365_chizk.jpg

sumber : http://www.milosskaya.ru

Tak kenal maka tak sayang, karena itu mari berkenalan dengan istilah di bidang kesehatan yang namanya indeks glikemik. Minuman manis seperti teh manis, es cendol, atau makanan manis seperti cheese cake, red velvet, pancake tentu akan membuat pikiran Anda melayang jauh… membayangkan nikmatnya melahap makanan dan minuman tersebut sambil mendengarkan alunan musik kesayangan serta merasakan sejuknya semilir angin di tengkuk Anda.  Semakin lama tak terasa Anda melahap makanan dan minuman itu semakin banyak. Hap! Nyamm nyamm nyamm… Selama ini hanya segelintir orang yang benar-benar menaruh perhatian pada tinggi rendahnya kadar indeks glikemik (IG). Makanan dan minuman nikmat di atas adalah contoh makanan yang memiliki IG tinggi.

“Indeks glikemik merupakan tingkatan pangan menurut efeknya (immediate effect) terhadap kadar gula darah. Pangan yang menaikkan gula darah dengan cepat, memiliki indek glikemik tinggi, sebaliknya makanan yang lambat menaikkan gula darah, memiliki indeks glikemik rendah. Pembanding tinggi rendahnya indeks glikemik adalah indeks glikemik glukosa murni dengan nilai rujukan 100.” (Rimbawan dan Siagian 2004).

Makanan dan minuman ber-IG tinggi akan dicerna dengan cepat, diserap, dan segera menaikkan kadar gula darah atau disebut juga sugar rush. Dan kadar gula berlebih tersebut akan disimpan sebagai lemak di dalam tubuh. Itu yang menyebabkan mengonsumsi makanan dan minuman ber-IG tinggi dapat mengakibatkan kegemukan. Makanan dan minuman dengan IG rendah tentu lebih menyehatkan. Hal ini dikarenakan kadar gula dipecah dan dicerna lebih lambat sehingga pembentukan glukosa dalam darah lambat dan stabil. Oleh karena itu, bagi mereka yang sedang menjaga pola makannya, makanan ber-IG rendah adalah pilihan yang paling tepat.

Namun jangan melupakan bahwa proses pengolahan makanan dapat menyebabkan IG makanan dan minuman yang satu berbeda dengan yang lainnya. Bahkan makanan yang sejenispun apabila diolah dengan cara berbeda dapat memiliki IG yang berbeda. Misalnya ayam, akan memiliki kadar indeks glikemi lebih tinggi bila digoreng menggunakan minyak bekas pakai atau bahasa kerennya minyak jelantah, daripada ayam yang digoreng menggunakan minyak yang masih fresh dari botolnya.

Makanan dan minuman ber-IG tinggi selain dapat menyebabkan kegemukan juga menyebabkan diabetes melitus. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, “penyandang DM (diabetasi) di Indonesia mencapai 14 juta orang” (Depkes RI 2005).

Beberapa pakar menyatakan dengan mengonsumsi makanan dan minuman ber-indeks glikemik rendah akan membuat rasa kenyang lebih lama sehingga keinginan makan berlebihpun berkurang. Sebaiknya Anda juga mengurangi konsumsi makanan ber-IG tinggi agar dampak buruknya dapat diturunkan.

Blog Comments: (2 comments so far)

  1. Pingback: Tips Sahur agar Tubuh Kuat Berstamina Selama Puasa

  2. Pingback: Mengintip 4 Rahasia Menjaga Kesehatan Prima Christine Hakim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>